Berlibur ke Bali merupakan tujuan banyak orang, berbagi alasan dan keperluan menjadikan Pulau Bali tempat wisata dan bisnis yang sangat menjanjikan. Namun guna memenuhi kebutuhan oleh-oleh bapak/ibu selama berada di Bali, kami dengan senang hati menyuguhkan berbagai pilihan jajanan kue pia gulung istimewa dengan berbagai pilihan rasa yg sudah sangat terkenal antara lain: RASA DURIAN, RASA COKLAT, RASA KACANG IJO, RASA KEJU, RASA KELAPA, RASA KACANG, DLL.

Kamis, 26 Januari 2012

Umi Rampengan Sehat Bersama Keajaiban ORHIBA


Gerakan memutar kedua lengan sambil mengencangkan seluruh perototan badan yang saya lakukan secara rutin ternyata berhasil menghalau gangguan maag yang telah mengungkung badan dan pikiran saya selama lebih dari 4 tahun.

‘Obat’ yang sangat sederhana ini bisa dilakukan oleh siapa pun.
Kalau bukan karena suatu “keajaiban”, bisa jadi saya masih meringkuk, bahkan sudah tidak berada di dunia ini karena derita maag kronis yang memicu penyakit darah tinggi dan insomnia yang parah. “Keajaiban” dalam hidup saya itu adalah Orhiba (Olahraga Hidup Baru).
Pada awalnya saya memandangnya dengan sebelah mata. Ternyata, sampai kini, sudah 40 tahun saya tetap setia melakukannya. Alhamdulillah, dengan ber-Orhiba saya selalu sehat, bersemangat hingga umur mencapai 71 tahun. Lewat Orhiba saya menemukan hidup yang lebih berkualitas, sehat, bisa mengajar dan menolong orang lain yang menderita sakit.

Didera maag berkepanjangan
Penyakit saya itulah yang memperkenalkan saya kepada Orhiba. Saat itu, sebagai istri tentara yang tergabung dalam batalyon tempur, saya rasakan hidup tidak pernah tenteram. Sejak menikah hingga berumur 27 tahun dan mempunyai seorang anak, saya lebih banyak hidup sendiri di asrama tentara karena sering ditinggal suami. Setiap suami berpamitan, rasanya saya juga harus menyiapkan mental kalau-kalau suami tidak pulang karena hilang atau tewas di medan operasi.
Menghadapi kenyataan seperti ini, diam-diam tubuh saya mulai digerogoti penyakit. Lambung saya sering perih dan mual. Saya sering lemas mendadak, mata berkunang-kunang. Makin hari keadaan saya makin parah, hingga sempat pingsan dan digotong ke dokter. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan, selain menderita maag, tekanan darah saya juga relatif tinggi. Dokter memberi resep untuk menebus obat maag dan darah tinggi di apotek.
Memang penyakitnya selama sebulan sembuh, bulan berikutnya kambuh lagi. Kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus. Dada saya juga sering berdebar-debar. Dokter menganjurkan saya untuk lebih pasrah dan menenangkan pikiran, tetapi saya sulit melakukannya karena tidak tahu caranya. Singkatnya, saya jadi sangat bergantung pada obat-obatan, terutama obat maag dan darah tinggi. Setahun, dua sampai tiga kali saya didera penyakit yang membuat tubuh saya makin lemah, kurus, dan pucat. Di kompleks, saya dikenal sebagai pesakitan.
Selain obat dokter saya juga tak henti berusaha mencari dan mencoba obat tradisional misalnya pisang kepok yang masih mengkal (belum matang). Konon getahnya bisa “merekat” luka tukak lambung. Saya juga mencoba labu kuning yang dikukus sebagai makanan sehari-hari untuk mendinginkan perut. Saya menjadi pelanggan jamu maag Nyonya Gouw yang terkenal saat itu di Bandung, tapi saya tetap juga menjadi pelanggan dokter. Gangguan yang paling berat adalah sulit tidur yang sering membuat saya melek semalaman. Selain obat untuk maag dan tensi, saya kemudian diberi valium. Dengan valium 5 mg saya bisa tidur 2-3 jam setiap malam.

Dipertemukan dengan Orhiba
Suatu saat ketika sedang antri mengambil obat di apotek, seorang laki-laki usia matang yang mengantar temannya, menanyakan kondisi saya yang tampak sangat pucat, katanya. “Mau mencoba obat yang murah dan mudah?”, begitu dia menawarkan. Kolonel Jamal, demikian nama orang tersebut, kemudian memberi saya secarik kertas berisi alamat serta pesan kepada Kolonel Satmoko agar menerima saya berlatih Orhiba. Itulah pertama kali saya mengenal ‘obat’ bernama Orhiba.
Saya ingat betul, saat pertama kali saya berkenalan dengan olahraga ini, yaitu bulan Nopember 1969, di rumah Kolonel Satmoko, di Jalan Cendana, Bandung. Betapa kagetnya saya. Ingin rasanya secepatnya menyelinap pergi ketika melihat latihan Orhiba di sana. Dalam rumah besar peninggalan zaman Belanda itu ada sekitar 40 orang tentara berlatih bersama, tanpa baju. Saya yang masuk rumah dengan menyelonong - karena tidak ada orang di ruang depan - ternyata satu-satunya perempuan di ruang itu.
Tapi kedatangan saya telanjur dilihat oleh tuan rumah yang sedang melatih, dan saya duduk menunggu. Gerah sekali, ingin rasanya segera melarikan diri. Untung, sebentar kemudian istri si empunya rumah, Ibu Satmoko, muncul. Rupanya dia juga baru melatih Orhiba untuk kelompok wanita.
Jadi inikah yang dinamakan Orhiba? Mana mungkin gerakan sesederhana itu menyembuhkan penyakit saya?

Awalnya, saya meremehkannya
Gerakan Orhiba sangat sederhana, hanya memutar kedua lengan ke arah luar (belakang) berkali-kali sampai mencapai jumlah hitungan tertentu, yaitu minimal 200 kali. Gerakan ini seyogyanya dikerjakan sebagaimana kita minum obat, yakni 3 kali sehari. Bagi mereka yang kondisi tubuhnya sehat dan mampu berdiri tegak, sebelum mulai memutar kedua lengan, tubuh harus dalam sikap sempurna.
Caranya, kencangkan perototan seluruh tubuh, regangkan lebar-lebar otot dada dan angkat. Tarik dengan kuat otot perut dan pinggang bagian belakang sehingga batang tubuh (torso) tegak. Kencangkan otot paha dan pinggul sehingga bokong tertarik ke atas. Edarkan pandangan ke sekeliling untuk menyadarkan keberadaan tubuh di tengah alam semesta. Menengadah sedikit untuk memberi keleluasaan leher, tatap langit biru sekaligus meniatkan untuk menyerap energinya. Lalu usap dan rasakan tangan secara bergantian, bulatkan tekad untuk semakin mencintai dan menyehatkan diri sendiri dengan melakukan latihan Orhiba ini.
Hanya begitu saja ? Ah…, mudah sekali !
Penjelasan suami-istri pelatih Orhiba itu saya anggap angin lalu dan saya cepat-cepat pamit. Mereka membekali saya dengan lembaran kertas berisi keterangan singkat tentang cara mempraktikkannya.
Lewat tengah hari, saya baca dan mencoba mulai menggerakkan tangan. Tubuh saya memang masih lemah dan kurang tenaga. Namun, sebagai mantan atlet pancalomba (lempar cakram, tolak peluru, lompat jauh, dan lompat gawang) gerakan itu tidak terlalu sulit. Tetap saja saya mulai belajar dengan susah payah karena kurang tenaga. Aneh, ketika beristirahat di sela-sela latihan memutar tangan itu saya jatuh tertidur beberapa menit, padahal saya belum mulai menelan valium yang baru dinaikkan dosisnya oleh dokter menjadi 10 mg. Saya terbangun sambil terkejut, ah…saya tertidur setelah belajar Orhiba ?
Selanjutnya, banyak terjadi keanehan dalam hidup saya berkat latihan Orhiba. Berawal dari saya bisa tidur, berangsur-angsur berbagai keluhan penyakit saya meluntur sehingga saya terbebas dari konsumsi obat-obatan, bahkan tidak lagi berkunjung ke dokter. (N)

Penulis : Endang Ariani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar